Postingan

Menampilkan postingan dengan label tulisan

Barangkali “Perkembangan” UN dalam Perkubangan

Gambar
Oleh: Ni Nyoman Alit Purwaningsih              "Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan.” -St. Kartono-  Barangkali, persoalan UN menjadi topik perbincangan hangat sekarang. Tragedi. Begitulah kata yang tepat dilontarkan untuk kegagalan UN kali ini. Bukan hanya carut marut lagi, namun sudah gagal. Kegaduhan persoalan UN di setiap tahunnya memang sudah ada. Persoalan bocornya soal, peserta mencontek, soal tertukar, adanya joki UN, dan persoalan lainnya memang menjadi persoalan jamak setiap tahun. Apalagi sejak diberlakukan UN. Kini, carut marut tersebut sudah dipatahkan. Dalam hal ini dipatahkan dalam sebuah kegagalan. Masih hangat kegagalan UN tahun ini bahwa, 33 propinsi di Republik Indonesia, sepertiganya atau 11 provinsi harus menunda pelaksanaan UN ka...

Fenomena Sampah di Negeri Spiritual

Gambar
Bali, salah satu propinsi di Indonesia dengan mayoritas agama Hindu. Hindu Bali, dikenal dengan prosesi upacara yang memanfaatkan sumber daya alam seperti tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Umat Hindu Bali, membawa canang dan sesajen menggunakan bokor atau keben . Tapi, itu kebiasaan tempo dulu. Sekarang, umat Hindu banyak menggunakan plastik untuk membawa canang dan sesajen   lainnya. Bahkan air suci ( tirta ) pun dibawa menggunakan plastik. Hal itu memang tidak ada larangan. Namun, apakah plastik yang sudah tidak digunakan tersebut telah dibuang pada tempatnya? Hari-hari tertentu, umat Hindu melakukan persembahyangan ( mebakti ) di pura-pura. Apalagi saat upacara piodalan Pura. Umat ( pamedek ) pun datang ( tangkil ) dengan hati yang tulus menghadap kepada-Nya. Meningkatnya semangat nangkil ke pura, apakah artinya semakin meningkatnya Sradha dan Bhakti kepada Tuhan? Hanya masing-masing individu yang bisa merasakannya. Namun sepertiny...

Cari SKP, kok Cap Cip Cup ?

Gambar
Sepasang mata berkali-kali lipat tertuju pada kertas putih yang tertempel di tembok. “Maan SKP sing ne nah?,” ketus seorang mahasiswa Universitas Udayana. Begitulah skenario yang tertangkap di salah satu fakultas Universitas Udayana saat membaca pamflet acara seminar. “ Maan SKP sing ne nah? ”, yang jika di-Indonesiakan, “dapat SKP tidak ini ya?”, sudah tidak asing lagi di telinga I Putu Andika Suryanatha Budi Sentana, mahasiswa fakultas Pertanian. “Kalau nggak ada SKP, nggak banyak mahasiswa yang dateng . Padahal menurutku, SKP bisa dicari pelan-pelan. Malah yang seharusnya dikejar itu adalah SKS,” ujar Andika. Pemberlakuan SKP dimunculkan sebagai perantara suatu sistem yang dapat menumbuhkembangkan minat dan mendorong mahasiswa agar mengikuti kegiatan. Karena pada awalnya, mahasiswa kurang memiliki minat untuk mengasah soft skill melalui kegiatan di luar akademik. Namun, pemahaman dan niat mahasiswa berkata lain. Kacamata mahasiswa pun cenderung memiliki pemikiran yang ins...

Lulus Cepat, Soft Skill Rendahan? Neng Nongg…

SKP yang diamini supaya meminimalisir mahasiswa yang sekadar pulang-kuliah-pulang-kuliah, sehingga memiliki soft-skill kuat, sepertinya mengalami pergeseran pemahaman. Betapa tidak, SKP dijadikan sebagai target utama mahasiswa dalam  mengikuti suatu kegiatan. Dengan  kata lain, jika suatu kegiatan yang tidak dibarengi atau berlabelkan SKP, maka mahasiswa sedikit kemungkinan akan mengikuti kegiatan tersebut. Begitupun sebaliknya, jika kegiatan tersebut berlabelkan SKP, tanpa harus berpikir panjang pun, mahasiswa dengan senang hati untuk datang. Namun, untuk “datang” saja. Dengan paradigma yang sifatnya memaksa seperti itulah, SKP telah menyihir mahasiswa dengan dalih prasyarat mengikuti yudisium, SKP menjadi primadona bagi yang haus nafsu tanpa mempertanggungjawabkan latar belakang kegiatan yang berlabel SKP tersebut. Keaktifan dalam kegiatan atau organisasi sebenarnya dilakukan untuk menambah pengalaman, melatih fisik, serta mematangkan mental mahasiswa, agar nantinya bisa...

Orang-Orangan Sawah VS Beton Angkuh

Gambar
Lima belas tahun ke belakang, burung-burung pipit masih merasakan surga di hamparan padi yang sangat luas. Sejauh mata memandang, masih nampak orang-orangan sawah berdiri dengan gagahnya di sudut-sudut pematang sawah. Sungguh sebuah kenangan yang indah dan menentramkan. Kenangan? Ya, ini hanya sebuah kenangan, karena orang-orangan sawah yang dulu  berdiri dengan gagahnya kini telah terinjak oleh bangunan-bangunan yang berdiri dengan angkuhnya. Gelar Pulau Bali sebagai Pulau Dewata, Pulau Surga, dan Pulau Seribu Pura yang menarik banyak wisatawan telah menjadi peluang bagi investor untuk berlomba-lomba menanamkan usahanya di Bali. Alhasil, hotel, villa, restoran dan pendukung lainnya bermunculan di setiap sudut tempat di Bali. Kompetisi para investor inilah yang memicu terjadinya  penyempitan lahan pertanian di Bali. Sungguh ironis melihat kenyataan lahan pertanian di Bali berganti baju menjadi bangunan beton hingga 1000 hektar per tahun. Masing-masingnya sekitar 800 h...

Ketika Tanah Warisan Diperjualbelikan Kepada Orang Luar

“Ojek… Ojek…” Beberapa tukang ojek mendekati, berteriak menawarkan jasa ketika orang-orang turun dari sebuah jukung dan mendaratkan kaki di Pelabuhan Toya Pakeh, Nusa Penida.             Matahari menyumbangkan panasnya kepada pulau  terpencil tersebut. Pantas saja, penduduk di Pulau Nusa Penida mayoritas berkulit gelap karena ulah sang matahari. Memang, sebagian besar orang luar menganggap Nusa Penida sebagai sebuah tempat yang kering dan tandus. Sekian menit menyusuri jalanan di Pulau Nusa Penida yang begitu terjal serta tanah yang berkapur, terlihat di pinggir jalan berdiri rumah-rumah gubug. Gubug tersebut tak lain adalah sebuah tempat yang dipakai untuk menyimpan hasil panen rumput laut. Terlihat juga jemuran-jemuran rumput laut membentang yang diwadahi dengan terpal di depan gubug. Ya. Saat ini, masyarakat Nusa Penida bermata pencaharian rumput laut. Perlu diketahui bahwa, masyarakat ...

“Ah, To Runguang”

Gambar
            Tempat yang indah pemandangan alamnya, unik tradisinya, dan tentunya mengasyikkan kalau dikunjungi. Begitulah tempat yang di cari-cari wisatawan.             Pulau Bali, merupakan satu diantara tempat yang diprimadonai oleh wisatawan. Berbagai julukan yang mengistimewakan diberikan untuk Pulau Bali tentunya. Bermacam-macam tradisi Bali dan keindahan alamnya menyihir orang luar sehingga membuat orang-orang tersebut berdecak kagum.             Namun, apakah mereka tahu dibalik keindahan alam dan tradisinya, Bali mempunyai sisi negatif. Masyarakat Bali telah menodai keistimewaan tempatnya sendiri. Ya. Tajen, merupakan tradisi turun-temurun dari zaman nenek moyang. Tradisi yang telah mendarah daging dan sulit untuk dimusnahkan. Tradisi tajen ini terkait dengan adat dan budaya. T...

Ketika Kepak Sayap Burung Pipit Menghilang

Gambar
“Klontang, klontang, klontang… Brrsssshhhh…” Bunyi kaleng bekas secara otomatis mengagetkan burung-burung yang ketika itu sedang asyik memakan bulir-bulir padi. Dan seketika itu pula burung-burung mengepakkan sayapnya dengan kompak.         Kaleng tersebut di ikat berjejer dengan tali. Setelah itu, di dalam kaleng tersebut diikat paku dan ujung dari ikatan tersebut diletakan dipinggir sawah atau di pinggir jalan. Jika di gerakan kaleng akan mengeluarkan suara “Klontang, klontang”. Sang petani begitu sabar menjaga lahannya. Sadar karena lahan tersebut merupakan sumber hidupnya dan keluarganya.        Ada juga di atas pematang sawah yang panjang, di sisi sepetak padi tersebut, anak-anak dengan semangatnya memainkan sebuah tali nylon yang diujungnya diikatkan dengan sebuah layang-layang. Angin semilir membuat layang-layang terbang dengan elok di atas hamparan padi yang tak lama lagi siap p...