Postingan

Menampilkan postingan dengan label global

Pasar Mini Sehat Ala Sunday Community Market

Gambar
Sambut Hari Lingkungan Hidup, kurang pas kalau belum berkunjung ke Sunday Community Market. SCM yang biasanya dikenal dengan Sanur Community Market karena biasanya diselenggarakan di Sanur, kini (2/6) dengan nama Sunday Community Market, SCM diselenggarakan di Little Tree Bali, Sunset Road 112X. “Beberapa alasan kami menyelenggarakan SCM di tempat berbeda karena HFHL ingin membuat skala besar serta adanya permintaan dari peserta stand untuk diadakan di tempat lain. Selain itu, adanya kerjasama kami dengan Little Tree yang kebetulan merupakan toko ramah lingkungan,” jelas Illyas Dede Saputra selaku Ketua HFHL (Healthy Food Healthy Living) Bali. SCM merupakan sebuah pasar mini sehat karena tidak hanya menyediakan beberapa pangan sehat, namun tersedia juga produk olahan kreatif dan ramah lingkungan. SCM dibuka pada pukul 10.30 WITA, yang diawali dengan launching Toko Oleh-oleh Green. Mengangkat tema “Think, Eat, Save”, kegiatan SCM ini terbagi menjadi lima kegiatan, ...

Barangkali “Perkembangan” UN dalam Perkubangan

Gambar
Oleh: Ni Nyoman Alit Purwaningsih              "Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan.” -St. Kartono-  Barangkali, persoalan UN menjadi topik perbincangan hangat sekarang. Tragedi. Begitulah kata yang tepat dilontarkan untuk kegagalan UN kali ini. Bukan hanya carut marut lagi, namun sudah gagal. Kegaduhan persoalan UN di setiap tahunnya memang sudah ada. Persoalan bocornya soal, peserta mencontek, soal tertukar, adanya joki UN, dan persoalan lainnya memang menjadi persoalan jamak setiap tahun. Apalagi sejak diberlakukan UN. Kini, carut marut tersebut sudah dipatahkan. Dalam hal ini dipatahkan dalam sebuah kegagalan. Masih hangat kegagalan UN tahun ini bahwa, 33 propinsi di Republik Indonesia, sepertiganya atau 11 provinsi harus menunda pelaksanaan UN ka...

Arsitektur Bali, Upaya Warga Mencipta Ruang Kota yang Nyaman

            Wajah Bali kini berbeda dengan wajah Bali dulu. Ruang Bali dulu, tak sesempit kini. Begitu sesak dengan tumpukan rumah ataupun deretan bangunan tanpa celah. Akhirnya, kawasan yang ramah lingkungan dan hemat energi pun memudar kian waktu. Dampaknya pun tak segan-segan berujung pada perubahan iklim.             P erubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi kita di seluruh dunia. Pulau-pulau kecil seperti Bali akan merasakan dampak terburuknya karena naiknya permukaan air laut. Tak hanya itu. Akibat perubahan iklim, hujan menjadi tak menentu. Ditambah tata ruang  Denpasar yang tak ramah lingkungan, akibat e mpat tahun belakangan ini Denpasar menjadi langganan banjir. Adakah usaha kita untuk menjaga Gumi Bali?             Menjaga gumi Bali dapat memulai dari rumah tangga. Setidaknya mulai dari bangunan atau arsitektur rumah. ...

Ketika Tanah Warisan Diperjualbelikan Kepada Orang Luar

“Ojek… Ojek…” Beberapa tukang ojek mendekati, berteriak menawarkan jasa ketika orang-orang turun dari sebuah jukung dan mendaratkan kaki di Pelabuhan Toya Pakeh, Nusa Penida.             Matahari menyumbangkan panasnya kepada pulau  terpencil tersebut. Pantas saja, penduduk di Pulau Nusa Penida mayoritas berkulit gelap karena ulah sang matahari. Memang, sebagian besar orang luar menganggap Nusa Penida sebagai sebuah tempat yang kering dan tandus. Sekian menit menyusuri jalanan di Pulau Nusa Penida yang begitu terjal serta tanah yang berkapur, terlihat di pinggir jalan berdiri rumah-rumah gubug. Gubug tersebut tak lain adalah sebuah tempat yang dipakai untuk menyimpan hasil panen rumput laut. Terlihat juga jemuran-jemuran rumput laut membentang yang diwadahi dengan terpal di depan gubug. Ya. Saat ini, masyarakat Nusa Penida bermata pencaharian rumput laut. Perlu diketahui bahwa, masyarakat ...

Ketika Kepak Sayap Burung Pipit Menghilang

Gambar
“Klontang, klontang, klontang… Brrsssshhhh…” Bunyi kaleng bekas secara otomatis mengagetkan burung-burung yang ketika itu sedang asyik memakan bulir-bulir padi. Dan seketika itu pula burung-burung mengepakkan sayapnya dengan kompak.         Kaleng tersebut di ikat berjejer dengan tali. Setelah itu, di dalam kaleng tersebut diikat paku dan ujung dari ikatan tersebut diletakan dipinggir sawah atau di pinggir jalan. Jika di gerakan kaleng akan mengeluarkan suara “Klontang, klontang”. Sang petani begitu sabar menjaga lahannya. Sadar karena lahan tersebut merupakan sumber hidupnya dan keluarganya.        Ada juga di atas pematang sawah yang panjang, di sisi sepetak padi tersebut, anak-anak dengan semangatnya memainkan sebuah tali nylon yang diujungnya diikatkan dengan sebuah layang-layang. Angin semilir membuat layang-layang terbang dengan elok di atas hamparan padi yang tak lama lagi siap p...

Suara Kegelisahan Bali

Judul Buku : Saya Sungguh Mencemaskan Bali Penulis : I Dewa Gede Palguna, SH,MH Penerbit : Sekretariat Jendral dan Kepamiteraan Mahkamah Konstitusi, Jakarta Terbit : Agustus 2008 Tebal : xxii + 248 halaman       Bali, pulau kecil, padat, berisi. Lama sudah kita abaikan teriakan tertahan pulau ini, bahkan kita paksa untuk tetap tersenyum dan berkata, “It’s okey. Everything is gonna be alright”. Dalam keberhasilan Bali menjemput pertumbuhan ekonomi yang diguyurkan pariwisata, sehingga membuat Bali sibuk, hiruk pikuk, dan mentereng, yang akhirnya banyak persoalan muncul berbiak menjadi silang sengketa.      Buku “Saya Sungguh Mencemaskan Bali” yang ditulis oleh I Dewa Gede Palguna ini mendobrak paradigma tersebut. Ditinjau dari segi redaksional, buku ini menyodorkan banyak persoalan dihadapi Bali yang harus diatasi dengan penanganan menyeluruh. Kendati buku ini membeberkan kecemasan, kegelisahan, kebim...